Selasa, 26 Juli 2011

Video Yel - Yel Ospek FT UNY 2011

Assalamu'alaikum wr.wb


Bagaimana kabar nya sahabat MABA FT 2011 ? silahkan melihat video kekompakkan panitia ospek saat membawakan Yel-Yel OSPEK FT UNY , sudah pada tau liriknya kan?

Sampai bertemu di TM tanggal 27 dan 30 Juli 2011 (*tanggal 30 Juli adalah sosialisasi dan aksi semarak yel-yel)


SEMANGAT !

1. Mars FT


2. FT Chaiya


3. Tepuk Setuju



4. Salam FT


5. Jargon FT



6. Mbak Menix





CP : 08569076758 (Sigit Purnomo)
kalau ada pertanyaan terkait yel-yel , hubungi CP di atas.

Minggu, 17 Juli 2011

Peran Universitas Negeri Yogyakarta Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter

Oleh:
Prof. Dr. Achmad Dardiri
(Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNY)

dalam buku : Pendidikan Profetik "Revolusi Manusia Abad 21"

Permasalahan Masyarakat dan Bangsa Indonesia

Akhir-akhir ini banyak sarasehan dan kegiatan sejenis membicarakan masalah pendidikan karakter. Hal ini menunjukkan arti penting pendidikan karakter bagi kita masyarakat dan bangsa Indonesia. Nampaknya kesadaran bersama tentang arti penting pendidikan karakter ini, dilatarbelakangi oleh fenomena sosial masyarakat Indonesia, yang dalam banyak kasus menunjukkan adanya tanda-tanda kemerosotan integritas moral dari sebagian masyarakat Indonesia.nsebagaimana dikemukakan oleh Ary Ginanjar Agustian (Zuhdi dkk, 2009: 35-37) bahwa potret masyarakat Indonesia dewasa ini sangat memprihatinkan. Ada beberapa point penting yang terkait dengan potret masyarakat Indonesia dewasa ini: Pertama, sebanyak 42,3% pelajar SMP dan SMA di Cianjur melakukan hubungan seks di luar nikah, yang menurut pengakuan mereka dilakukan suka sama suka. Penelitian ini dilakukan oleh Annisa Foundation pada bulan Juli-Desember 2006. Kedua, di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terjadi 2 sampai dengan 2,6 juta kasus aborsi atau terjadi 43 aborsi untuk setiap 100 kehamilan, 30% diantaranya diperkirakan dilakukan oleh penduduk berusia 15-24 tahun. Informasi ini didasarkan pada data Organisasi Kesehatan WHO. Ketiga, Data Badan Narkotik Nasional pada Februari 2006 menyatakan bahwa dalam 5 tahun terakhir, jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51,3% atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Keempat, Geng SMA Negeri 34 (SMA Teladan dan menjadi idola Masyarakat Jakarta) melakukan penyiksaan siswa-siswa yunior. Kelima, Indonesia sangat terkenal dengan kasus korupsi, yang menurut Lembaga Transparansi Internasional yang bermarkas di Berlin tahun 2006 menempatkan Indonesia pada ranking 137 dari 159.

Persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini bukan hanya menyangkut persoalan moral sebagaimana diuraikan di atas, melainkan juga menyangkut hilangnya rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial masyarakat kita. Juga, menurunnya rasa hormat anak-anak dan peserta didik terhadap orangtua dan guru-guru mereka. Berdasarkan fenomena yang memprihatinkan itu, maka akhir-akhir ini muncul berbagai seminar di beberapa kota, khususnya di kalangan perguruan tinggi untuk mengangkat tema pentingnya pendidikan karakter. Kementerian Pendidikan Nasional pun kemudian membuat grand design pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan materi ajar.

Adanya kesadaran bersama masyarakat kita melalui berbagai forum atau seminar tersebut merupakan pertanda baik, bahwa masyarakat dan bangsa kita masih menginginkan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Lebih-lebih kita sebagai civitas academika atau masyarakat akademis tentu sangat berkepentingan dan seharusnya berdiri di barisan paling depan dalam mengawal karakter masyarakat dan bangsa ini. Oleh sebab itu, UNY dalam 5 tahun terakhir ini sangat konsen terhadap pengembangan pendidikan karakter, setidak-tidaknya upya ke arah itu sudah banyak dilakukan.

Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter

Karakter atau watak menurut Ki Hadjar Dewantoro (1977: 407-408) adalah paduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi “tanda” khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Dalam bahasa Yunani dan Latin, “character” berasal dari perkataan “charassein” yang artinya mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan. Karakter itu terjadinya karena perkembangan dasar yang telah terkena pengaruh ajar. Yang dinamakan “dasar” adalah bekal hidup atau “bakatnya” anak dari alam sebelum lahir, yang sudah menjadi satu dengan kodrat hidupnya anak (biologis). Sedangkan yang disebut “ajar” adalah segala sifat pendidikan dan pengajaran mulai anak dalam kandungan ibu sampai akil baligh, yang dapat mewujudkan intelligible, yakni tabiat yang dipengaruhi oleh masknya angan-angan. Di dalam jiwa, karakter itu adalah imbangan yang tetap antara hidup batinnya seseorang dengan segala macam perbuatannya. Oleh sebab itu, seolah-olah menjadi “lajer” atau “sendi” di dalam hidupnya, yang lalu mewujudkan sifat perangai yang khusus untuk satu-satunya manusia. Oleh karena karakter itu merupakan imbangan yang tetap antar azas kebatinan dan perbuatan lahir, maka baik atau tidaknya perangai itu, kata Ki Hadjar bergantung pada kualitas kebatinan, yakni jiwa atau subyeknya seseorang dan barang di luarnya jiwa yang selalu berpengaruh, yakni obyek.

Imam Barnadib (1978: 14) mengartikan watak dalam arti psikologis dan etis. Dalam arti psikologis, watak adalah sifat-sifat yang demikian nampak dan yang seolah-olah mewakili pribadinya. Sedangkan dalam arti etis, watak harus mengenai nilai-nilai yang baik dan menunjukkan sifat-sifat yang selalu dapat dipercaya, sehingga orang yang berwatak itu mempunyai pendirian yang teguh, baik, terpuji, dan dapat dipercaya. Dengan demikian, watak berarti susunan batin atau kesatuan kepribadian dalam arti etis, dan jika hal ini dikaitkan dengan definisi kepribadian menurut pengertian pendidikan, maka kepribadian yang demikian inilah yang mempunyai syarat dalam arti pedagosis. Berwatak berarti memiliki prinsip dalam arti moral. Oleh sebab itu, watak yang tidak bermoral perlu dicegah kehadirannya dalam pergaulan hidup manusia. Hanya dengan cara ini perbuatan dapat dipertanggungjawabkan dalam arti moral. Berdasarkan pandangan tersebut, Imam Barnadib menandaskan bahwa masalah watak berhubungan dengan masalah keagamaan. Agama mendidik manusia mengenal kebaikan dan perbuatan yang baik, dan demikian pula pendidikan watak. Maka dari itu, pendidikan watak menjadi salah satu pendukung dari pendidikan agama.

Adapun mengenai pengertian pendidikan karakter dapat kita pahami dari dua definisi berikut ini. Pertama, definisi yang diambil dari tulisan Robert Shumer dalam artikelnya yang berjudul “Connecting Character, Services and Experiental Education” (dalam Goh Kim Chuan et. als. 2010: 25):

“Character education is a national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through emphasis on universal values that we all share. It is the intentional, proactive effort by schools, districs, and states to instill in their students important core, ethical values such as caring, honesty, fairness, responsibility, and respect for self and others.”


Definisi kedua diambil dari tulisan Amin Abdullah (2010: 3-5) bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan kemanusiaan yang bertujuan menjadikan manusia “baik”. Menurutnya, pendidikan karakter memang diawali dengan pengetahuan atau teori. Pengetahuan tersebut bisa bersumber dari pengetahuan agama, sosial, dan budaya.dari pengetahuan itu diharapkan dapat membentuk sikap atau akhlak yang mulia. Dari rangkaian panjang itu yang paling penting adalah mengamalkan apa yang diketahui itu. Yang terjadi selama ini yang dipentingkan adalah mengetahui atau menghafal tanpa kemampuan untuk melakukan dan mempraktekannya di lapangan, sehingga pendidikan karakter lebih berorientasi pada intelektualisme etis. Menurutnya, pendidikan karakter seharusnya lebih tajam diarahkan pada kehendak dan motivasi daripada intelektualisme.

Dari dua definisi pendidikan karakter tersebut, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter itu dilakukan dengan upaya yang sistematis oleh pihak yang memiliki otoritas seperti pemerintah dan lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan dengan maksud agar masyarakat termasuk peserta didik memiliki sikap dan perilaku moral yang baik seperti : Kejujuran, ketulusan hati, memiliki tanggung jawab. Inti pendidikan karakter adalah pada sikap dan perilakunya, bukan sekedar pengetahuan.

Pendidikan Karakter dan Nilai-Nilai Profetik

Ada kaitan antara pendidikan karakter dengan nilai-nilai profetik? Jawaban terhadap pertanyaan ini nantinya kan terjawab. Kuntowijoyo (http://id.wikipedia.org/ wiki/Ilmu_Sosial_Profetik) sebagai ilmuwan sosial telah memperkenalkan Ilmu Sosial Profetik, yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menolak klaim bebas nilai dalam positivism, melainkan juga mengharuskan ilmu sosial untuk secara sadar memiliki pijakan nilai sebagai tujuannya. Ilmu Sosial Profetik tidak hanya berhenti pada usaha menjelaskan dan memahami realitas apa adanya, melainkan juga mentransformasikannya menuju cita-cita yang diidamkan masyarakatnya. Berdasarkan pada alasan tersebut, dia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Dari gagasan inilah kemudian para ahli mencoba mengkaitkan nilai-nilai profetik itu ke dalam bidang-bidang lain, seperti sosiologi dan pendidikan, sehingga muncul sosiologi profetik dan pendidikan profetik.

Menurut Kuntowijoyo, humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Jika ilmuwan barat humanismenya antroposentris, maka humanisme Kuntowijoyo berakar pada humanism teosentris. Oleh karena itu, maka humanisasi harus terkait dengan konsep transendensi yang menjadi dasarnya. Liberasi dalam ilmu Ilmu Sosial Profetik adalah dalam konteks ilmu yang didasari nilai-nilai luhur transcendental. Nilai-nilai liberatif dalam Ilmu Sosial Profetik dipahami dan didudukkan dalam konteks ilmu sosial yang memiliki tanggung jawab profetik untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, dominasi struktur yang menindas, dan hegemoni kesadaran palsu. Sedangkan transendensi tidak lain adalah dasar dari nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Transedensi menjadikan nilai-nilai transedental (keimanan) sebagai begian penting dari proses membangun peradaban. Transedensi menempatkan agama (nilai-nilai Islam) pada kedudukan yang sangat sentral dalam Ilmu Sosial Profetik.

Menurut hemat kami, jika nilai-nilai profetik tersebut dikaitkan dengan pendidikan, maka dapat ditegaskan bahwa pendidikan harus mampu memanusiakan peserta didik ke taraf insani yang bermartabat. Pendidikan juga harus mampu membebaskan peserta didik dari segala bentuk ketertindasan, kelemahan, ketertinggalan, dan kebodohan. Yang paling penting pendidikan harus mampu menjadikan nilai-nilai transedental, nilai-nilai keimanan, menjadi dasar bagi upaya memanusiakan, dan membebaskan peserta didik.

Peran UNY dalam Pengembangan Pendidikan Karakter

Menurut Thomas Lickona (1991: 51), membicarakan karakter berarti membicarakan tiga hal penting yang saling berkaitan, yakni moral knowing, moral feeling, dan moral behavior. Karakter yang baik berisi tiga hal pula, yakni knowing the good, desiring the good, dan doing the good. Ketiga hal tersebut harus dicapai dengan habits of the mind, habits of the heart, dan habits of action. Berdasarkan pandangan Lickona tersebut, maka UNY sebagai lembaga pendidikan tinggi yang diberi mandate utama menghasilkan calon pendidik dan tenaga kependidikan di samping mandate tambahan menghasilkan lulusan non kependidikan harus berupaya secara terus-menerus menunjukkan dan mensosialisasikan kepada warganya tentang nilai-nilai kebaikan apa saja yang harus diketahui dan dipahami oleh seluruh warganya. Upaya berikutnya adalah melatih warganya untuk merasakan nilai-nilai kebaikan yang disosialisaikan itu, dan dikondisikan agar warga UNY berupaya untuk selalu menginginkan yang baik-baik (kebaikan) dan tidak menginginkan yang tidak baik. Tahap berikutnya warga UNY diberi kesempatan untuk melakukan yang baik, mengimplementasikan atau mewjudkan dalam kehidupan keseharian apa yang dipahami atau diketahuinya, dan dirasakannya itu. Hal ini menunjukkan bahwa mengetahui kebaikan dan merasakan kebaikan saja tidak cukup jika tidak melakukan kebaikan.

Upaya besar ini harus “dikawal” dengan baik oleh semua pimpinan baik di level universitas, fakultas sampai di level jurusan. Juga, di level Kepala biro, Kabag, sampai ke subbag-subbag. UNY sebagai sub-sistem dari sistem sosial yang lebih besar harus mampi mengkolaborasikan antara tugas sebagai umara dan tugas sebagai ulama. Rasulullah Muhammad SAW perah bersabda (dalam Arif, 2008: 118): ada dua golongan dari umatku, jika keduanya biak, maka umatkupun akan menjadi baik. Dua golongan itu adalah umara (pemerintah) dan ulama (H.R. Abu Nu’aim). Dalam hadits yang lain dengan redaksi yang berbeda dari Rasulullah SAW bersabda, “Rakyat tidak akan mengalami kehancuran sekalipun mereka zalim dan buruk akhlaknya jika pemimpinnya suka menunjukkan ke jalan yang benar dan berada pada jalan yang benar. Sebaliknya, rakyat akan hancur sekalipun mereka suka menunjukkan ke jalan yang benar dan berada pada jalan yang benar jika pemerintahnya zalim dan buruk akhlaknya.” (H.R. Abu Nu’aim).

Pada level perguruan tinggi seperti UNY, para umara’nya adalah pimpinan universitas, fakultas, dan jurusan. Sedangkan para ulamanya adalah para dosen senior termasuk para guru besar sampai pada dosen yunior. Jika pemimpinnya baik, insyaallah warga kampusnya baik. Begitu pula para mahasiswa akan baik manakala para dosennya juga baik, suka menunjukkan kebaikan dan menjadi teladan, contoh bagi para mahasiswanya. Rasanya tidak fair jika para dosen menuntut mahasiswanya bernurani sementara dosennya sendiri tidak bernurani. Dalam pendidikan, pendidik harus mampu menjadi contoh dan teladan bagi anak didiknya. Adalah kewjiban kita semua untuk membangunkultur yang baik di lingkungan kamous kita. Bagi warga kampus yang berprestasi dan dan berperilaku baik perlu diapresiasi , sebaliknya bagi warga kampus yang tidak terpuji harusndiingatkan, ditegur, bila perlu diberi sangsi sesuai dengan kadar kesalahannya. Yang baik harus dikatakan baik dan yang salah harus dikatakan salah. Itulah bagian esensial dari pendidikan.

Manakala upaya ini dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten, lambat namun pasti akan ada hasilnya. Minimal sudah ikut berperan dalam membantu pemerintah di lingkungannya untuk menjadikan warganya berkarakter baik (good character). Kalau masing-masing lembaga pendidikan di semua jenjang pendidikan berlomba-lomba mengembangkan pendidikan karakter bagi warganya masing-masing sudah tentu akan mewarnai karakter bangsa secara keseluruhan. Inilah tugas besar kita bersama, yakni nation and character building.

Dalam hal ini, peran UNY dalam pengembangan pendidikan karakter adalah menjalankan fungsi preservative, yakni ikut memelihara nilai0nilai luhur bangsa melalui kegiatan tri dharma perguruan tinggi, yakni melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai luhur yang merupakan jati diri bangsa dan mencerminkan karakter baik bangsa Indonesia perlu terus dilestarikan. Di sisi lain peran UNY juga menjalankan fugsi direktifnya yakni menyiapkan calon lulusannya menjadi agen pembaharuan untuk mengantisipasi masa depan setelah memasuki dunia baru di dalam masyarakat.

Akhirnya, marilah kita wujudkan cita-cita kita bersama menjadikan UNY perguruan tinggi yang berkualitas, maju, dan bermanfaat, yang mampu menghasilkan lulusan yang bernurani, mandiri, dan cendikia, serta bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat luas. Amin..

GENERASI TEKNIK YANG BERKARAKTER


Assalamu’alaikum wr.wb

PERHATIAAAANNN!!! CHECK THIS OUT.

HIDUP MAHASISWA ! Sahabat Mahasiswa Baru Fakultas Teknik sekalian , sungguh tak hanya sekedar ucapan selamat datang yang pantas dihaturkan kepada sahabat sekalian. Selamat datang kerap menjadi hal yang sudah pasti dihadirkan. Sahabat, “SELAMAT BERKONTRIBUSI, BERAKSI dan MARI SAMA-SAMA MENUNTASKAN PERUBAHAN. Bangsa Indonesia tidak butuh manusia yang cerdas tapi tidak bermanfaat bagi masyarakatnya, yang berintelktual tapi tidak beriman, yang sudah menjadi sarjana tapi tak kunjung mendapat pekerjaan alias menganggur, yang pandai entrepreneur (baca: berwirausaha) tapi tidak membuka lahan pekerjaan buat orang lain, yang lihai dalam menulis tapi tidak menuliskan kebenaran dan kebaikan, yang piawai memimpin tapi tidak bisa menjadi teladan, yang bisa membuat karya tetapi hanya untuk dirinya sendiri. Mampukah kita menjadi bagian dalam perubahan? Benarkah Mahasiswa adalah “Agent of Change” ? Mari kita temukan jawabannya bersama-sama.

2-6 Agustus 2011 adalah hari dimana Sahabat sekalian membuktikan dan membuka buku catatan baru sebagai seorang Mahasiswa. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) tidak hanya sekedar acara ceremonial belaka, tetapi harapannya banyak nilai dan ilmu baru yang siap untuk didapatkan. Bertaqwa, mandiri dan cendikia adalah cara pandang jauh ke depan bagaimana Universitas Negeri Yogyakarta akan membentuk karakter semua civitas akademik dan juga komponen Universitas Negeri Yogyakarta. Itulah Visi UNY 2011. Bermakna dalam dan luar biasa menggugah.

“Pendidikan karakter” adalah grand tema OSPEK Universitas Negeri Yogyakarta 2011. Sedangkan “Membentuk generasi teknik yang bertaqwa, mandiri dan cendikia dengan menginternalisasi pendidikan karakter menuju kampus peradaban.” adalah tema dari OSPEK Fakultas Teknik 2011 sendiri. Panjang ya?? Coba maknai per kata dan temukan luar biasanya. :)

“Character education is a national movement …” -Prof. Achmad Dardiri- (Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta)

“Pendidikan Karakter adalah pergerakan nasional” . Lalu bagaimana peran UNY? Sesuai dengan Visi UNY, maka kita bisa mengkerucutkan Pendidikan karakter dengan Implementasi dari Visi UNY Bertaqwa, Mandiri dan Cendikia.

Tanpa panjang lebar, silakan gali Informasi dari referensi sebanyak-banyaknya terkait Pendidikan Karakter. Universitas Negeri Yogyakarta adalah kampus pendidikan . Pendidikan yang bagaimana? Harapannya adalah Pendidikan yang berkarakter.

Dan tidak terasa OSPEK Universitas Negeri Yogyakarta 2011 sudah terhitung hari.. mari persiapkan diri, rohani dan fisik. Ingat! Bulan Ramadhan yang mulia akan menjadi moment indah dikala OSPEK nanti, sahabat. Maka, tidak ada alasan untuk tidak semangat menyambutnya.. Semangat Mahasiswa.

Masih ingat Yel-yel OSPEK FT ? TEPUK SETUJU?
Anak FT, Anak FT Ayo Maju!
Anak FT, Anak FT Ayo Laju!
Tunjukkan semangatmu, Puasa terus maju
Jadilah Insan FT yang bermutu. SETUJU!

Yaaa… Tunjukkan Semangatmu kawan, Puasa Terus maju . PUASA OK , OSPEK PUN TETAP OK! ^_^
Cukup sekian.
Lihat Artikel berikutnya yaa… temukan informasi terkait TM OSPEK FT.

” Kemauan adalah tenaga jiwa. Karena merupakan tenaga jiwa, kemauan tidak dapat berdiri sendiri. Tenaga jiwa akan kuat apabila selalu dipupuk dengan baik seperti halnya tenaga fisik kita. Tenaga fisik kita akan kuat jika dipelihara dan dibangun dengan baik dan Jika Anda merasa pintar, ketahuilah bahwa Anda akan berhenti pada jalan pengetahuan Anda ” (Anis Matta)