Jumat, 15 Juli 2011

MAHASISWA SEBAGAI AGENT OF SOCIAL CHANGE

Berbicara tentang mahasiswa , hal pertama yang harus kita kritisi dan pertanyakan kembali adalah ” benarkah kita ini Mahasiswa ? jika iya, dimanakah eksistensi kita sebagai seorang mahasiswa ? atau bahkan kita pun belum mengetahui arti dari mahasiswa itu sendiri ?”. Betapa naifnya kita, apabila tidak mengenal diri kita sendiri.

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI bagian ke empat pasal 19 bahwasanya “ mahasiswa ” itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan secara harfiyah, “ mahasiswa ” terdiri dari dua kata, yaitu ” Maha ” yang berarti tinggi dan ” Siswa ” yang berarti subyek pembelajar (menurut Bobbi de porter ), jadi dari segi bahasa “ mahasiswa ” diartikan sebagai pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar di perguruan tinggi/ universitas.

Namun jika kita memaknai “ mahasiswa ” sebagai subyek pembelajar saja, amatlah sempit pemikiran kita, sebab meski ia ( baca : Mahasiswa ) diikat oleh suatu definisi study, akan tetapi mengalami perluasan makna mengenai eksistensi dan peran yang dimainkan dirinya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, “ mahasiswa ” tidak lagi diartikan hanya sebatas subyek pembelajar ( study ), akan tetapi ikut mengisi definisi learning. Mahasiswa adalah seorang pembelajar yang tidak hanya duduk di bangku kuliah kemudian mendengarkan tausiyah dosen, lalu setelah itu pulang dan menghapal di rumah untuk menghadapi ujian tengah semester atau Ujian Akhir semester. “mahasiswa” dituntut untuk menjadi seorang ikon-ikon pembaharu dan pelopor-pelopor perjuangan yang respect dan tanggap terhadap isu-isu sosial serta permasalahan umat dan bangsa.

Apabila kita flash back melihat sejarah, peran mahasiswa acapkali mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari penjajahan hingga kini masa reformasi. “ mahasiswa ” bukan hanya menggendong tas yang berisi buku, tapi mahasiswa turut angkat senjata demi kedaulatan bangsa Indonesia. Dan telah menjadi rahasia umum, bahwasanya mahasiswa lah yang menjadi pelopor restrukturisasi tampuk kepemimpinan NKRI pada saat reformasi 1998. Peran yang diberikan mahasiswa begitu dahsyat, sehingga sendi-sendi bangsa yang telah rapuh, tidak lagi bisa ditutup-tutupi oleh rezim dengan status quonya, tetapi bisa dibongkar dan dihancurkan oleh Mahasiswa.
Mencermati alunan sejarah bangsa Indonesia, hingga kini tidak terlepas dari peran mahasiswa, oleh karena itu ” mahasiswa ” dapat dikategorikan sebagai ” Agent of social change ” ( Istilah August comte dalam pengantar sosiologi ) yaitu perubah dan pelopor ke arah perbaikan suatu bangsa.
Kendatipun demikian, paradigma semacam ini belumlah menjadi kesepakatan bersama antar mahasiswa ( Plat form ), sebab masih ada sebagian madzhab mahasiswa yang apriori ( cuek ) terhadap eksistensi dirinya sebagai seorang mahasiswa , bahkan ia tak mau tahu menahu tentang keadaan sekitar lingkungan masyarakat ataupun sekitar lingkungan kampusnya sendiri. Yang terpenting buat mereka adalah duduk dibangku kuliah menjadi kambing conge dosen , lantas pulang duluan ke rumah, titik.
Inikah ” mahasiswa ” ? Padahal, mahasiswa adalah sosok yang semestinya kritis, logis, berkemauan tinggi , respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa, mau bekerja keras, belajar terus menerus, mempunyai nyali ( keberanian yang tinggi ) untuk menyatakan kebenaran, aplikatif di lingkungan masyarakat serta spiritualis dan konsisten dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan Konsep itulah, mahasiswa semestinya bergerak dan menyadari dirinya akan eksistensi ke-mahahasiswaan nya itu. Belajar tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi ( IP ) yang tinggi dan mendapat penghargaan cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa, atau paling tidak dalam lingkup yang paling mikro, ada suatu kemauan untuk mengembangkan civitas / perguruan tinggi dimana ia kuliah. Misalnya dengan ikut serta / aktif di Organisasi Mahasiswa, baik itu Organisasi intra kampus ( BEM dan UKM ) ataupun Organisasi Ekstra kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, Dengan semangat Muharramisasi mari kita sama – sama memaknai even tahun baru 1430 Hijriyah ini dengan senatiasa menginsafi dan selalu berintrospeksi diri kita sebagai seorang ” mahasiswa ”, juga kita jadikan sebagai moment untuk ” hijrah ”, yaitu hijrah dari kemalasan menuju kerja keras, hijrah dari sikap pesimis menuju sikap optimis, berani keluar dari kenyamanan untuk mendaki dan menempuh kesulitan, respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa , sehingga endingnya kita layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang ” mahasiswa ”.

Penugasan OSPEK FT UNY 2011

Penugasan Hari Pertama OSPEK Universitas
1.    Penugasan Pribadi
a.       Slayer putih
b.      PIN merah putih
c.       Topi toga
d.      Co-card
e.       Artikel Pendidikan Karakter
f.       Buku bacaan maks. Rp. 15.000,-
g.      Alat Ibadah dan sajadah
h.      Kursi Seribu Lipat
i.        Slayer orange 1 Buah
j.        Air wudhu 1,5 Liter,  2 buah
k.      Alat Tulis
l.        Bekal bagi yang Tidak Berpuasa

2.    Penugasan kelompok
-          Kardus mie tidak pernah bohong : 2 buah

Penugasan Hari kedua OSPEK Universitas
1.    Penugasan Pribadi
a.       Beras 1 kg
b.      Mie cerita seru maks. Kadaluarsa 2012
c.       Sabun mandi luar angkasa
d.      Slayer putih
e.       PIN Merah Putih
f.       Topi Toga
g.      Co-card
h.      Alat ibadah dan sajadah
i.        Kursi seribu lipat
j.        Slayer orange 1 buah
k.      Air wudhu 1,5 liter : 2 buah
l.        Alat tulis
m.    Bekal bagi yang gak puasa

2.    Penugasan Kelompok
-          kantong gandum putih
-          plastik hitam terbesar : 2 buah



Hari Ketiga OSPEK Fakultas
1.    Penugasan Pribadi
a.       PIN Merah Putih
b.      Topi Toga
c.       Co-card
d.      Alat Ibadah dan Sajadah
e.       Kursi Seribu Lipat
f.       Slayer Orange 1 Buah
g.      Alat Tulis
h.      Bekal bagi yang Tidak berpuasa
i.        Buku tulis, gambar bola dunia 38 hal. 2 buah
j.        Pulpen sopir pesawat
k.      Penghapus istana
l.        Pensil helm prajurit

2.      Penugasan Kelompok
-          Kardus mie gak pernah bohong
-          Plastik hitam terbesar


Penugasan Hari Keempat OSPEK Fakultas
1.    Penugasan Pribadi
a.       PIN Merah Putih
b.      Topi Toga
c.       Co-card
d.      Alat Ibadah dan Sajadah
e.       Kursi Seribu Lipat
f.       Slayer Orange 1 Buah
g.      Alat Tulis
h.      Bekal bagi yang Tidak berpuasa

2.    Penugasan Kelompok
-          Pot beserta tanaman hias
  
Penugasan Hari Kelima OSPEK Fakultas
1.    Penugasan Pribadi
-          2 dan 5-10 sama
-          Kado silang berupa barang 8950

UNY Menuju World Class University

UNY adalah salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang telah mempersiapkan diri menuju universitas bertaraf internasional. Banyak langkah yang telah dicapai dalam mewujudkan World Class University ini, diataranya dengan membuka kelas internasional, mengadakan pelatihan dan workshop, student’s exchange yang diwujudkan dengan pengiriman mahasiswa ke Universiti Tun Hossen Onn Malaysia (UHTM), Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, dan University of Sidney. Selain itu, juga diadakan berbagai pertemuan ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh universitas dan hampir semua fakultas. Selain itu ada juga kunjungan dari luar negeri Sothern Cross University (Australia), USAID dan Ichi University serta sejumlah universitas lain.
Dalam menuju World Class University, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan antara lain:
  1. Niat yang kuat dan bulat dari segenap civitas akademika. Adanya niat bahwa UNY akan menuju WCU, perlu disosialisasikan keseluruh komponen universitas sehingga menimbulkan optimisme yang merupakan modal dasar dan landasan yang kokoh untuk melangkah lebih lanjut. Mempersatukan niat yang sama bukanlah hal mudah, karena akan ada banyak pendapat, ketidakoptimisan, keraguan dan bahkan cemoohan. Ini tantatangan besar yang harus dilalui dan dipecahkan.
  2. Mendefinisikan World Class University (WCU) dan dilanjutkan sosialisasi. Definisi WCU bukan hanya sekedar penggunaan Bahasa Inggris dalam sistem belajar-mengajar saja. Tentunya UNY menginginkan suatu WCU totalitas dari polapikir hingga tidakan nyata (action)(kurikulum: isi, metode dll). Banyak universitas yang menggunakan bahasa pengantar bahasa inggris, tetapi bukanlah suatu WCU, misalnya: Universitas di Philipina, di Zimbawe, di Afrika Selatan dll.. Penentuan definisi WCU dan sosialisasi definisi WCU ke seluruh ciwitas akademika dan ke masyarakat luas menjadikan wacana UNY menuju WCU akan membumi, dan bukan sekedar angan-angan.
  3. Menjabarkan definisi WCU dalam suatu program kerja yang terukur dalam batas waktu dan capaian tertentu, misalnya: tahunan ataupun 3 tahunan dll. Hal ini menjadikan wacana UNY menuju WCU menjadikan bertahap dan ke arah realita bukan hanya sekedar “lips service”. Walaupun mungkin anak cucu kita yang akan menikmati, tetapi kita harus memulainya. Minimal meletakkan dasar-dasar dan fondasi UNY menjadi suatu WCU.
  4. Dalam rangka menuju WCU, hendaknya membudidayakan segenap sumber daya, perangkat, dan sistem yang ada. Perlunya pembaharauan dan revisi sistem-sistem yang berbasis lokal, misalnya saja: penulisan dan ujian skripsi dimungkinkan dalam bahasa inggris, pembaharuan peraturan-peraturan kearah wacana internasional dll. Optimalisasi sumber daya manusia sangatlah mendesak untuk dilakukan. UNY memiliki profesor-profesor dan doktor-doktor sangat memadai dalam segi kualitas dan kuantitas. Optimalisasi sumber daya manusia dalam bidang profesional dan fungsional, bukan dalam bidang struktural. Suatu contoh: pengembangan profesor dan doktor yang ada melalui penelitian-penelitian yang bertaraf Internasional melalui grup-grup research sehingga akan menghasilkan karya-karya akademik berskala internasional dan menjadikan UNY menuju Research University. Pembimbingan staf-staf akademik yunior oleh staf akademik senior dalam bidang Tridarma PT (Pendidikan dan Pengajaran, Penenlitian, serta Pengabdian Masyarakat). Selama ini mayoritas gerakan penelitian bersifat insidental, serabutan dan sendiri-sendiri. Pembimbingan dosen senior terhadap dosen yunior belum berjalan baik (hanya sekedar formalitas) dan instan, bahkan terjadi kevakuman regenerasi.
  5. Peningkatan kerja sama antar universitas dari dalam maupun luar negeri serta dengan masyarakat. Kerjasama ini hendaknya bukan sekedar MoU belaka, tetapi disertai tindakan nyata, misalnya: pertukaran mahasiswa, pengiriman staf akademik, kerjasama research dll.
Dengan langkah- langkah di atas jika Tuhan menghendaki, maka UNY akan menjadi World Class University yang seutuhnya. Dan peran kita sebagai mahasiswa adalah salah satu 

KONTRIBUSI UNY UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan Karakter akhir-akhir ini menjadi buah bibir banyak orang, terlebihlebih dalam masyarakat pendidikan. Wacana pendidikan karakter muncul secara terus bukan semata-mata di sebabkan oleh kebijakan Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, melainkan lebih jauh disebabkan oleh adanya keprihatinan masyarakat Indonesia terhadap dekadensi moral yang tidak kunjung selesai, serta masih banyaknya kejadian konflik antar kelompok, suku bangsa, golongan, dan status sosial yang mengancam persataun dan kesatuan bangsa Indonesia.

Di satu sisi, reformasi di Indonesia sudah berhasil mendorong demokratisasi dan gerakan transparansi, namun di sisi lain reformasi bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam batas tertentu masih belum mampu menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di sekitar kita masih dijumpai cukup banyak perilaku warga Indonesia, baik secara personal maupun kolektif, bertentangan dengan misi reformasi, apakah itu berupa perilaku amoral, perilaku eksploitasi terhadap sesama, perilaku korupsi, dan perilaku konflik antar sesama. Masih banyak lagi perilaku yang tak terpuji yang pada akhirnya merugikan banyak orang dan banyak pihak.

Menyadari kenyataan yang demikian dirasakan penting sekali adanya gerakan pendidikan karakter. Suatu usaha besar yang melibatkan semua pihak untuk mengawal pendidikan karakter bagi seluruh warga Indonesia, terlebih bagi individu yang masih tumbuh dan berkembang yang masih berada pada masa transisi. Karena itu pendidikan karakter bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan juga orangtua, institusi pendidikan, organisasi agama, dan masyarakat.

Untuk memperkuat pentingnya pendidikan karakter, kita ingat akan sabda Rasulullah saw, yaitu : Innamaa bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq”, artinya Sesungguhnya aku dibangkitkan di bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq”. Ini menegaskan bahwa betapa pentingnya akhlaq itu bagi kehidupan baik di mata manusia maupun Tuhan. Juga ditegaskan lagi Rasulullah, yaitu “hubbul wathan minal iimaan”, artinya cinta tanah air adalah sebagian daripada iman. Hal ini menegaskan bahwa setiap warga negara wajib menunjunjnung tinggi bangsa dan negaranya, tidak bersifat merusak apalagi menghacurkan.

Atas dasar itulah UNY memiliki tekad yang besar untuk berpartisipasi aktif dalam mengawal pendidikan karakter untuk Indonesia. Ada beberapa alasan UNY ingin berkontribusi bagi pendidikan karakter di tanah tercinta ini.

Pertama, UNY memiliki visi menghasilkan insan bernurani, mandiri, dan cendekia. Artinya bahwa UNY memandang pentingnya moralitas dan spiritualias dalam pembentukan lulusan. Jika seorang terdidik tidak bermoral, maka banyak pihak yang akan dirugikan. UNY sangat berkeinginan lulusannya justru memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Demikian juga UNY ingin menghasilkan lulusan yang cendekia dengan sifat utamanya memiliki tanggung jawab sosial (social responsibility), karenanya lulusan UNY harusmemiliki rasa kebangsaan yang tinggi, bangga akan tanah airnya.

Kedua, UNY merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang memiliki core business bidang pendidikan. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha memanusiakan manusia, sehingga manusia itu berkepribadian, berkarakter, dan beradab. Karena lulusan UNY sebagian besarnya akan menjadi pendidik, maka UNY sangat berkewajiban menjadikan pendidikan karakter sebagai komponen utama dalam proses pendidikannya.

Ketiga, UNY menjadikan pendidikan karakter sebagai icon-nya. Karena itulah UNY memiliki keberanian moral untuk memberikan penghargaan akademik tertinggi Doktor Honoris Causa kepada Bapak Ary Ginanjar atas kemampuan akademik, perjuangan, dan setelah melalui pengkajian serius oleh

sejumlah ahlinya, sehingga tetap on the track

Setelah memperhatikan posisi UNY dalam mengahadapi gerakan pendidikan karakter, kiranya perlu diidentifikasi kontribusi UNY dalam mengawal implementasi pendidikan karakter. UNY telah melakukan pembinaan moral keagamaan dan pembinaan perilaku terpaji terhadap semua unsur, baik dosen, karyawan, terlebih-lebih mahasiswa. Pembinaan kerohanian bagi dosen dan karyawan dilakukan secara periodik, baik berlangsung di kampus maupun di luar kampus. Pembinaan keagamaan bagi mahasiswa dilakukan melalui program dan kegiatan turorial untuk melengkapi kegiatan kurikuler. Untuk internalisasi nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan juga diupayakan melalui kegiatan perkuliahan, terutama diawali dengan mata kuliah umum yang akan dilanjutkan dengan mata kuliah bidang studi. Di samping itu, diupayakan adanya kegiatan intensif melalui unit kegiatan kerohanian untuk setiap agama, Unit Kajian Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba, Resimen Mahasiswa, dan Pramuka.

Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter tidaklah mudah karena ada minimal dua faktor penting, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, bahwa tidak semua individu itu memiliki kesiapan, kemampuan, dan kemauan untuk berperilaku baik, bahkan ada kecenderungan perbuatan merusak seringkali tampak dominan. Tidak semua dosen memiliki kemampuan dan penguasaan bidang agama, sehingga ada rasa takut untuk mengimplementasikan dalam proses pendidikan. Di samping itu masih adanya kecenderungan untuk agresif, kurang empati, dan akomodatif terhadap orang lain yang berbeda pendapat dan keinginan. Faktor eksternal, adanya budaya asing yang agresif untuk menkontaminasi budaya kita, terutama di era informasi yang sangat terbuka. Adanya lingkungan masyarakat yang tak peduli terhadap perilaku yang tercela di tengah-tengah masyarakat.

Setelah memperhatikan kondisi tersebut, maka dapat ditawarkan berbagai upaya untuk mengoptimalkan kontribusi UNY terhadap implementasi pendidikan karakter.

Pertama, memantapkan komitmen semua unsur untuk mengedepan pentingnya pendidikan karakter, sehingga setiap individu dapat ikut andil dalam mengawal pendidikan karakter sesuai dengan kemampuannya.

Kedua, mengupayakan setiap pimpinan di unit dan levelnya masing, bahkan termasuk di lingkungan mahasiswa untuk menjadi teladan dalam berperilaku yang santun. Ketiga, mengagendakan secara rutin forum pertemuan dan silaturahim antar individu atau institusi yang beragam, sehingga terbangun salaing menghormati, respek, dan menolong. Keempat, membangun gerakan berprilaku konstruktif dan bermanfaat bagi orang lain, kelompok lain atau institusi lain.

Akhirnya kami yakin bahwa semua unsur yang berada di komunitas UNY, baik mahasiswa, dosen, karyawan, maupun alumni, perlu terus mengedepankan kebersihan dan kesucian hati dalam mengemban amanah sesuai dengan posisinya masing-masing, sehingga kehadirannya dapat menunjukkan perilaku yang terpuji, perilaku yang adil, perilaku yang mendatangkan kedamaian, dan perilaku yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan. Dengan demikian UNY tidak hanya dapat mengawal pendidikan karakter, melainkan juga insya Allah mampu memberikan kepuasan seluruh civitas academikanya, bagi masyarakat luas dan bagi kemanusiaan.

Senin, 11 Juli 2011

MEMBANGUN ETIKA SEBAGAI MAHASISWA



Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa latin, yaitu “mos”, dan dalam bentuk jamaknya “mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.

Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

Setiap komunitas memiliki sistem nilai masing-masing, baik dari unit komunitas yang paling kecil yaitu keluarga, komunitas dunia pendidikan/persekolahan, dan komunitas yang lebih luas lagi yaitu, masyarakat. Para anggota komunitas itu dituntut untuk dapat memahami dan menjalani sistem nilai yang berlaku. Begitupun di lingkungan kampus, setiap civitas akademika diharapkan ikut membangun sistem nilai di lingkungan kampus, baik dosen, karyawan dan mahasiswa.

Antara etika dengan mahasiswa memiliki hubungan yang sangat erat. Etika sangat berperan penting terhadap diri mahasiswa maupun orang lain, dengan memahami peranan etika mahasiswa dapat bertindak sewajarnya dalam melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa misalnya di saat mahasiswa berdemonstrasi menuntut keadilan etika menjadi sebuah alat kontrol yang dapat menahan mahasiswa agar tidak bertindak anarkis. Dengan etika mahasiswa dapat berperilaku sopan dan santun terhadap siapa pun dan apapun itu. Sebagai seorang mahasiswa yang beretika, mahasiswa harus memahami kebebasan dan tanggung jawab, karena banyak mahasiswa yang apabila sedang berdemonstrasi memaknai kebebasan dengan kebebasan yang tidak bertangung jawab. Di bawah ini beberapa etika di kampus yang perlu diinternalisasi dalam diri mahasiswa.

1. Menaati peraturan yang ditetapkan oleh Fakultas dan Para Dosen yang mendidik kita.

2. Menganggap teman sesama mahasiswa sebagai teman sejawat yang harus saling membantu dan menganggapnya sebagai pesaing secara sehat dalam berkompetisi meraih prestasi akademis.

3. Menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dengan menaati kaidah keilmuan yang berlaku seperti menghindari tindakan menyontek, plagiat, memalsu tandatangan kehadiran dan tindakan tercela lainnya.

4. Berperilaku sopan dan santun dalam bergaul di lingkungan kampus dan di masyarakat umum sebagai manifestasi dari kedewasaan dalam berfikir danbertindak.

5. Berpenampilan elegan sesuai dengan mode yang berlaku saat ini tanpa harus melanggar tata tertib berpakaian di kampus.

6. Berfikir kritis, rasional dan ilmiah dalam menerima ilmu pengetahuan baru, bisa mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menguji setiap masukan dengan cara mengkonfirmasikan ke sumbernya.

7. Mempunyai prinsip yang jelas dalam berpendirian di dasari dengan kerendahan hati tanpa harus tampak sombong atau angkuh.

Berkaitan dengan etika yang perlu dibangun mahasiswa, dewasa ini sedang marak tema tentang ‘character building’ dalam dunia pendidikan. Apabila kita simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya. Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa atau rakyatnya menjadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang dicita-citakan.

Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat. Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab dan beretika.

Oleh karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan beretika, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia.

Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah).

Sedangkan pendidikan karakter melalui kampus bagi para mahasiswa, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral dan sebagainya.

Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Apabila kita cermati bersama, bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan, penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas oleh para pendidik kita, seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan. Ki Hajar Dewantara misalnya, mengajarkan praktek pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan "tuntunan" bukan "tontonan". Sangat jelas cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan "among"' yang lebih menyentuh langsung pada tataran etika, perilaku yang tidak terlepas dengan karakter atau watak seseorang.